Rabi’ah al-Adawiyah, Sang Sufi Cinta


Tuhanku, tenggelamkan aku dalam samudera cintaMu….

A.   Biografi Rabi’ah Al Adawiyah
Rabi’ah Al Adawiyah memiliki nama asli Rabi’ah Al Adawiyah binti Ismail al Adawiyah al Bashriyah. Ia lahir di kota Basrah tahun 95 H/174 M dan meninggal sekitar tahun 185 H/801 M dan dimakamkan di tempat itu juga.
.
Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyah tergolong wanita sufi yang terkenal dalam sejarah Islam. Dia lahir dalam sebuah keluarga yang miskin dari segi kebendaan namun kaya dengan peribadatan kepada Allah. Ayahnya hanya bekerja mengangkut penumpang menyeberangi Sungai Dijlah dengan menggunakan sampan.
.
Pada akhir kurun pertama Hijrah, keadaan hidup masyarakat Islam dalam pemerintahan Bani Umaiyah yang sebelumnya terkenal dengan ketaqwaan telah mulai berubah. Pergaulan semakin bebas dan orang ramai berlumba-lumba mencari kekayaan. Justru itu kejahatan dan maksiat tersebar luas. Pekerjaan menyanyi, menari dan berhibur semakin diagung-agungkan. Maka ketajaman iman mulai tumpul dan zaman hidup wara’ serta zuhud hampir lenyap sama sekali.

Sejarah Perpustakaan Islam : Perintisan Peranan Hingga Kemundura

Pada masa kejayaan Islam, perpustakaan merupakan sarana untuk belajar, hingga umat Islam mampu membangun peradaban besar yang bertahan beberapa abad lamanya. Banyak informasi dan ilmu pengetahuan yang tidak terdokumentasikan dengan baik oleh umat Islam dilupakan begitu saja.

Akibatnya tatanan umat Islam baik aspek ekonomi, politik, sosial, budaya dan aspek kehidupan yang lain mengalami stagnasi. Sehingga ahirnya umat Islam hanya menjadi umat pengikut dari bangsa maju, yang dalam hal ini adalah dunia barat. Padahal kita menyadari bahwa kemajuan dunia barat dicapai dengan melalui penguasaan ilmu pengetahuan yang di ambil dari pusat-pusat ilmu pengetahuan muslim seperti perpustakan.

Dari paparan diatas menunjukan betapa pentingnya perpustakaan dalam pengembangan suatu bangsa.

Dalam hal ini banyak ilmu pengetahuan , informasi dan dokumentasi yang di sediakan perpustakaan memiliki peran yang sangat besar dalam pemberdayaan umat.

Banyak literatur yang mengungkapkan bahwa perpustakaan sebagai tempat aktivitas belajar, yang kegiatannya hampir sama dengan apa yang di lakukan di sekolah-sekolah. Fungsi dan peran perpustakaan ini banyak di adopsi oleh perpustakaan di negara maju seperti Inggris, Australia dan Kanada.

Nyanyian Cinta

Judul      : Nyanyian Cinta
Penulis   : Habiburrahman El Shirazy
Type      : PDF
Cairo memasuki musim semi. Pagi yang indah. Langit yang cerah. Orang-orang menatap hari dengan penuh gairah. Bgitu juga Mahmid. Ia melangkah memasuki gerbang Universitas Al Azhar dengan semangat membuncah. Fakultas Dakwah di Nasr City demikian ia cintai. Ia bayangkan hari yang indah penuh barakah. Mata kuliah Sirah Nabawiyyah, Fiqih Dakwah, Fiqh Al Muqaranah, Qiraah Sab’ah, Syaikh Fahmi Abdullah, Syaikh Yahya Ash Shabrawi, Prof. Dr. Abdul Aziz Abdih, teman-teman yang sesemangat, seirama dan se-ghirah. Mencintai rasulullah seutuhnya, tekad membaktikan diri sepenuhnya pada agama Allah. Semuanya menjadi cahaya dalam dada. Menjadi mentari bagi semangatnya.
“Sebelum diangkat menjadi seorang nabi, Muhammad saw. Telah dikenal sebagai orang yang paling menjaga amanah di seantero kota Makkah. Shingga beliau diberi gelar Al Amin. Orang yang sangat bisa dipercaya. Orang yang sangat menjaga amanah. Sifat inilah yang semestinya dimiliki setiap muslim.”

Teori Dan Praktik Dalam Kepustakawanan

Sepanjang sejarah dan sampai detik ini, salah satu ciri tetap dari kehadiran perpustakaan di masyarakatnya adalah sifat atau karakternya yang “suka rela”; perpustakaan disediakan untuk masyarakat secara suka rela (artinya: tak berbayar, gratis) dan dimanfaatkan secara suka rela pula (artinya: anggota masyarakat tak harus/wajib menggunakannya). Apa pun bentuk perpustakaannya, tak pernah ada yang secara sungguh-sungguh (dan berhasil) menjadi lembaga berorientasi profit (keuntungan finansial). Semua perpustakaan berifat non-profit.

Tentu saja, harus segera digarisbawahi, untuk dapat bertahan di masyarakatnya sebuah perpustakaan perlu dana/biaya (cost) dan perlu bermanfaat (beneficial) bagi masyarakatnya. Namun pembiayaan itu seringkali tak datang langsung dari pengguna atau langsung dari penggunaan/pemanfaatan sarana/jasa perpustakaan. Bentuk paling umum dari pembiayaan ini adalah subsidi atau subsidi silang.

Jika perpustakaan itu adalah bagian dari sebuah perusahaan bisnis, misalnya bagian dari bisnis eksplorasi minyak, maka perpustakaan itu biasanya mendapat subsidi sepenuhnya, sehingga disebut pula sebagai “cost centre” (secara becanda sering disebut “tempat buang duit”!).

Profesionalisme Bagi Pustakawan

Istilah ‘pustakawan’ merupakan terjemahan dari bahasa Inggris yaitu ‘librarian’ yang berpangkal pada kata dasar library yang diterjemahkan dengan perpustakaan. Seorang pustakawan bukan hanya berurusan dengan pustaka (buku), melainkan dengan sistem perpustakaan yang telah dibangun dan dikembangkan secara baku di dunia internasional. Seorang pustakawan disebut dengan ahli sistem perpustakaan, bukan ahli pustaka (bdk. A.C. Sungkana Hadi, 1983: v ), oleh karena itu tanggung jawab seorang pustakawan adalah untuk menyelenggarakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan secara sistemik, bukan hanya perpustakaan yang asal-asalan, mska dengan demikian tanggung jawab seorang pustakawan juga bersifat profesional, karena dilandasi oleh adanya suatu sistem yang baku dan berskala internasional.

Salah satu peran profesional pustakawan adalah menjadi pemandu yang mampu mengantarkan pengguna menjelajahi informasi dalam berbagai situs internet, namun sekaligus pemandu yang mampu memberikan nasehat yang tepat kepada pengguna dalam memilih informasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Peran profesional ini akan semakin rumit karena teknologi terus berkembang.